
Menggilas Sebuah Aliran
“Penduduk dunia sekarang ini amat biasa bergaul dengan gambar yang bagaikan santir dari dunia nyata. Dan teknologi terus saja ingin menampilkan gambar yang makin menyantir, makin mewimba”.
Soedjoko,1992
(santir = segala hal yang tampak dicermin).
Ada pelbagai sudut pandang dalam memahami berkembangnya suatu mazhab, pertama, mereka yang melihatnya sabagai satu fenomena historis dengan mengamati kronologi pemikiran dan perubahannya; kedua, adalah mereka yang mengamati adanya proses meng-ideologi dalam setiap diri. Mantapnya sebuah mazhab, adalah jika didiskusikan secara terus menerus dan diterapkan dalam wacana intelektual secara terus menerus. Mantapnya sebuah mazhab, juga didukung oleh perilaku radikal penggagas utama, para pengikut dan murid dalam perioda waktu yang lama.
Untuk mengamati adanya kelangsungan Mazhab Bandung, penulis memilih jalur kedua, karena jalur ini jarang ditempuh atau “enggan” ditempuh. Disamping juga, selama ini belum ada yang berhasil menangkap fenomena ini sebagai sesuatu yang bermakna. Dalam kondisi itulah penulis mencoba menangkapnya sebagai sebuah proses “meng-ada” dalam diri yang selama ini menjadi “persinggahan” aneka gagas itu selama kurang lebih 30 tahun. Aspek subyektif dan ketidakikhlasan kerap menyertai, karena timbulnya konflik batin, antara keinginan untuk membangun suatu penyadaran alternatif, terutama ketika Mazhab Bandung telah mengalami proses pelapukan dan retak di sana-sini, serta mendudukkannya sebagai bagian sebuah wacana kebudayaan yang bermakna dan juga bertanggungjawab.
Langgengnya pendidikan kesenirupaan di ITB lebih dari 50 tahun, merupakan bukti-bukti yang tak dapat dipungkiri bahwa Mazhab Bandung itu ada dan mantap sebagai sebuah ideologi berkarya, maupun proses pendidikan. Kemudian sebarannya yang meluas dalam wacana kesenirupaan nasional adalah wujud-wujud implementatif mazhab tersebut secara fanatik dianut dan dikembangkan. Demikian pula model pendidikan kesenirupaan modern yang menekankan kepada konsep, intelektualitas, metodologi dan aspek-aspek keformalan adalah wujud lain bahwa spirit Mazhab Bandung yang ‘dirawat’ dan dijabarkan oleh para pelakunya secara bergenerasi.Memang sebagian diantaranya berupaya mengingkari, namun tak kuasa mempraktekkan dan mengakui keberadaannya. Kita tentu saja tak dapat mungkir, bahwa model pendidikan kesenirupaan yang berlangsung di Indonesia hingga saat ini adalah ‘jasa’ para pemikir Mazhab Bandung generasi pertama dan kedua. Tatkala aspek-aspek modernitas, kebebasan berpikir, estetik akademis dan rasionalitas telah menjadi bagian dari wacana kesenirupaan Indonesia.
Ada saatnya Mazhab Bandung mengalami ujian yang berat, ketika dituduh sebagai ‘agen Barat’ di tahun 60-an, dan pada saat itu wacana kesenirupaan nasional sedang berklibat kepada otodidakisma dan Realisme Sosialis. Namun ujian berat tersebut dapat dilampaui dengan kearifan yang tiada tara. Kemudian ujian berat kedua muncul ketika para seniman membuka program studi desain pada awal tahun 70-an yang sementara itu dinilai sebagai ‘seni rendah’ dan terlalu rasionalistis. Pada zamannya, seni terapan semacam itu memiliki kecenderungan ‘dimusuhi’ oleh para kritikus seni dan para seniman otodidak. Bahkan hingga sekarang. ‘desain’ belum menjadi bagian penting dalam wacana historis kesenirupaan di Indonesia.
Beberapa buku yang ada, seperti Art in Indonesia karangan Claire Holt, Visual Art yang disusun oleh Hildawati , Nusa Jawa : Silang Budaya karangan Denys Lombard, 35 Tahun Pendidikan Senirupa Indonesia disusun oleh But Mukhtar, Mengenang Perintis Senirupa Indonesia oleh IA-ITB, 50 Tahun Senirupa Indonesia disusun oleh Biranul Anas, Dua Senirupa kumpulan tulisan Sanento Yuliman, dan sejumlah katalog dan makalah lepas merupakan rujukan bahwa “Mazhab Bandung” itu ada, meskipun tidak dinyatakan secara tegas. Tetapi bagi penulis, yang hadir, sebagai penyaksi, pegaul dan terkena langsung imbasnya selama kurang lebih tiga puluh tahun merasakan proses “mengideologi” yang kuat dalam banyak bidang, terutama estetika dan sistematika berpikir.
Dalam paparan ini, penulis juga mencoba untuk mengklasifikasikan beberapa fenomena yang tercerai-berai itu sebagai pandangan pribadi. Selain itu, “ciri-ciri” yang begitu kuat yang telah terbangun selama kurang lebih setengah abad, tidak bisa dihindari untuk “menular” antar generasi, baik melalui proses pendidikan maupun berkarya. Hal inipun telah disadari cukup lama, bahwa mereka yang ingin belajar ke perguruan tinggi senirupa ITB, bukan hanya sekadar ingin memperoleh gelar kesarjanaan saja, tetapi juga menginginkan masuk ke dalam atmosfir budaya “Mazhab Bandung” yang selama ini dirasakan sebagai salah satu tonggak penting dunia kesenirupaan Indonesia.





